Feeds:
Posts
Comments

Gak hanya lagu…ternyata memang sakit ketika semuanya harus berakhir. Tapi…memang harus begini. Ku gak mau lebih melukai orang lain hanya demi keegoisan yang ku katakan cinta.

Kalau cinta memang egois, berarti ada yang salah dengan cintaku. Aku gak mau menyakiti orang lain dengan perasaan ku. Biarlah cukup aku saja yang merasakan sakitnya sendirian dan memendam rindu.

Tak harus seluruh dunia tahu apa yang kurasa, cukup hanya aku dan rasa ku saja yang paham. Biar saja itu jadi bagian masa lalu.

Jika ada yang berakhir, pasti ada permulaan…Jadi sekarang biarlah aku memulai hidupku dengan seorang yang membuat hidup seolah stabil dan tidak berombak. Memang agak kurang asyik, tapi apa lagi yang diinginkan perempuan bila ingin memulai hidupnya?




Kenapa Harus CINTA?

Sebuah kata yang bisa membuat orang bahagia, senang, tertawa, tapi juga menangis dalam waktu yang sama adalah CINTA. Kedengarannya memang picisan, tapi siapa yang tak butuh kata itu? Sudah ribuan buku, novel, bahkan puisi diciptakan oleh pencinta untuk menggambarkan perasaannya…

Untuk apa itu smua? CINTA memang sangat aneh. Ketika itu, orang yang sedang jatuh cinta pasti ingin seluruh dunia tau apa yang dia rasakan. Hihihi….lucu memang, tapi saya juga ingin anda semua tahu bagaimana CINTA yang saya rasakan.


Mediasi adalah salah satu peran penting media massa. Namun, peranan mediasi itu, akhir-akhir sering dikaburkan dengan kehumasan. Dalam kasus Lapindo, misalnya, media yang seharusnya aktif menjalankan fungsi mediasi, perlahan-lahan bermetamorfosis menuju fungsi kehumasan.

Dalam kasus Lapindo. Media diawalnya memuat pemberitaan yang mengecam pihak Lapindo. Tak hanya itu, Media kala itu juga mengangkat pemberitaan yang menunjukkan bagaimana masayarakat yang menjadi korban lumpur menderita.

Tahap kedua, kalau bisa saya kelompokkan jenis-jenis pemberitaan sehingga tampak metamorfosisnya, media memberitakan bagaimana pihak terkait menanganinya. Namun, dalam tahap dua ini, media masih juga menyalahkan Lapindo akibat kekurangsigapannya dalam penanganan lumpur.

Masih dalam tahap dua, media mulai menyoroti bagaimana aparat pemerintahan dan kepolisian mulai tanggap. Jika saya menyebutnya, tahap kedua adalah tahap pemberitaan elite politik pemerintahan.

Selanjutnya adalah tahap tiga. Pemberitaan tahap ini, media mulai memberitakan tentang proses penanganan. Termasuk bagaimana para ahli teknik melakukan penelitian terhadap lumpur dan bagaimana dampaknya bagi ekosistem lingkungan.

Dalam tahap ketiga ini pula, disisipkan beberapa gagasan para ahli untuk mengatasi masalah lumpur. Diantaranya dengan water treatment dan pembuatan industri kecil. Namun, media mulai mengabaikan bagaimana respon korban Lapindo terhadap usulan para ahli tersebut.

Tahapan keempat, media mulai banyak memberitakan tentang langkah-langkah yang dilakukan oleh Lapindo dalam mengganti kerugian yang dibuatnya. Media mulai mengekspose proses ganti rugi yang dilakukan Lapindo terhadap perusahaan-perusahaan, masyarakat serta karyawan-keryawannya yang terkena dampak lumpur panas.

Ketika tahapan ini pula, media memuat bagaimana Lapindo melakukan negosiasi dengan PLN, dan PT. KAI atas kerugian yang ditanggung oleh keduanya. Namun, lagi-lagi, tak menyiarkan tentang respon korban akibat penawaran tersebut. Kini (12/9), setelah memasuki hari ke 106, media malah memberitakan tentang usaha-usaha Lapindo dalam menyelesaikan masalah lumpur.

Kalaupun ada pemuatan tentang penderitaan korban atau keinginan-keinginan mereka, itu hanya dijadikan pendahuluan untuk selanjutnya menyiarkan release atau pembelaan yang telah disusun oleh tim komunikasi Lapindo.

Bukan rahasia lagi bila Lapindo memiliki sebuah tim komunikasi yang harus memenuhi syarat tidak bekerja di tempat lain selama bergabung di sana. Penentuan syarat ini sangat masuk akal bila dalam waktu kontrak 3 (tiga) bulan, setiap anggota timnya bisa digaji tinggi dan mengabdi sepenuhnya pada pihak Lapindo, selama 24 jam.    

Anggota tim ini ditugaskan untuk turun ke lapangan dan mengambil data yang berupa aspirasi masyarakat korban Lapindo. Namun, data yang didapat di lapangan bukanlah untuk masukan bagi pengelola. Data-data tersebut kemudian diolah menjadi release yang kemudian disiarkan di media-media massa.

Karenanya, jika diamati, pemberitaan tentang Lapindo sangat monoton dan tidak bervariasi. Maklum saja, sumber berita yang ditemui oleh para jurnalis itu sama. Bahkan bahan tulisaannya juga sama. Semuanya sama-sama menuliskan tentang hal-hal yang telah dilakukan Lapindo bagi korban-korbannya.

Yang menjadi sangat disayangkan adalah media tak lagi mengetuk hati kalangan birokrat untuk segera memikirkan nasib 10.000 orang yang menjadi korban Lapindo. Terakhir kali, media memberitakan pemerintah daerah akan merelokasi mereka ke lokasi baru.

Malah, akhir-akhir ini media menyoal tentang sayembara yang diadakan oleh masyarakat. Ada dua sayembara yang diadakan. Pertama ialah sayembara pengatasan masalah untuk masyarakat umum, dan yang kedua untuk paranormal.

Seharusnya, jika media mau cermat dan benar-benar menjalankan fungsi mediasi, maka media bisa menganalisis sebab-sebab munculnya sayembara itu. Lalu, hal tersebut dapat dihubungkan dengan peranan elite maupun tindakan yang diambil oleh pihak Lapindo.

Namun, media hingga saat ini, tidak melakukan fungsi tersebut. Malahan, media menjalankan fungsi kehumasan. Mengapa kehumasan? Karena pemberitaan yang ada semakin lama semakin mendukung langkah Lapindo dan membenarkan setiap tindakannya.

Gejala apa yang terjadi pada pers yang memberitakan kasus Lapindo? Tentu saja ini adalah langkah pembelian idealisme pers untuk menjalankan fungsi kehumasan Lapindo. Adanya pusat berita Lapindo dan direkrutnya orang-orang untuk menjadi tim komunikasinya sudah menjadi penanda terhadap tindakan Lapindo yang hendak membungkam pemberitaan miring tentang kasus Lapindo.

Maka, tak heran bila ada indikasi bahwa pers sudah dibeli oleh Lapindo. Joke-joke yang berkembang pun mengatakan bahwa wartawan yang meliput Lapindo akan kembali tak hanya membawa berita, namun juga setumpuk uang.

Benar atau tidaknya hal itu, kita bisa melihat buktinya dari pemberitaan yang muncul di media selanjutnya. Apakah tetap mengandung unsur pembelaan terhadap Lapindo, atau lebih menyadarkan masyarakat bahwa masih banyak hal yang perlu dipikirkan untuk menyelamatkan banyak jiwa yang telah menjadi korban?    

(Belum terpublikasikan dalam versi ini…Karena alasan etika dan menjaga hubungan dengan bla bla bla…Yach…setidaknya, itu pesan Pak Boss ku)

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!